Di rak ruang kelasku ada glockenspiel mainan yang suka iseng kuketuk bilah-bilahnya. Entah kenapa aku jadi suka melakukannya berulang-ulang pada nada fa yang miring. Nada yang tak pada tempatnya tapi memaksa tetap di sana. Mungkin itu mengingatkanku pada bagaimana kita selalu berandai-andai lalu menjadi sedih karena pengandaian adalah sesuatu yang tak mungkin. Atau mengingat-ingat lalu… [Read more…]
Kepada pikiran Aan Mansyur, aku tahu seekor burung yang dapat terbang jauh dan tinggi sekali. Ia burung kecil dengan bulu-bulu lembut warna senja—warna semesta campur banyak-banyak bahagia dan kesedihan yang ia telan lalu baik-baik disimpannya. Jika orang-orang melihatnya sesekali dari dalam mobil di tengah kemacetan ibukota, atau saat duduk-duduk di taman, atau sambil mendorong gerobak… [Read more…]
Pelajaran Matematika. Guru kami bapak mungil dengan celana yang sebentar-sebentar turun sedikit ke pinggulnya. Katanya, kami harus mencari angka yang tepat untuk mengganti x agar jumlahnya nol. Jika kau adalah x, aku akan berhenti membenci pelajaran ini setelah menemukan angka untuk membuatmu tak ada. Tapi tak bisa, kata Pak Guru sambil menaikkan celananya. Sebab belum… [Read more…]
Posted in: Uncategorized
Pohon mangga di depan rumahku tahu sekali rasa rindu— petang begini dikirimkannya sehelai dirimu lewat angin ke depan pintu; cokelat tua dan kering lalu sesak di mataku. 4 Januari 2012
Posted in: Uncategorized
Satu, sebagai sedikit debu di atas sajadah tempatmu rebah ketika subuh tiba dua, sebagai kelopak bunga melayang sehelai hingga sampai padamu begitu saja tiga, sebagai garis oranye pada sore hangat yang membuat matamu sulit terbuka empat, sebagai sisa gerimis dari tempias di pinggir teras sebelum sempat kauseka lima, sebagai khayalan kecil tentang sepasang bibir yang… [Read more…]
Tuan-tuan nyonya-nyonya tiga hari Bapak belum makan juga nyaris tak bicara, padahal biasanya saya suka diajak nyanyi di pangkuannya. Tuan-tuan nyonya-nyonya saya mau minta bantuan, sebab tadi Ibu bilang tak ada lagi orang yang bisa melepas benang hitam di mulutnya. – Selembar surat tanpa alamat diberi bocah laki-laki rambut merah bau matahari, pada Pak Pos… [Read more…]
: Arnellis Mellema Arnellis itu Annelies yang rasa Nyai Ontosoroh, sebab ia perempuan keras dengan garis-garis kuat dan kata-kata mendongak. Arnellis itu Annelies yang barangkali sama manis, sebab ia perempuan lembut lengkap dengan tutur halus dan nada-nada teratur. – Tapi Arnellis bukan Annelies yang bukan juga rasa Nyai, sebab hatinya tak perlu terpaksa pura-pura mati—… [Read more…]
Sesekali suara jatuh cinta akan lebih gaduh dari biasanya, seperti saat terbangun malam-malam dan menatap segala yang diam: tirai jendela menjuntai langit-langit kamar dan lampu-lampu padam. Jika begitu aku akan pura-pura tak mendengar dan bernyanyi keras-keras saja— sebab mungkin aku tak akan menemukanmu di mana-mana selain dalam debar dada.
Memo di Pintu Kepalamu Masa lalumu itu setelah usai dikremasi harusnya kautebar di Laut Mati tapi kau menelannya lagi hingga membentuk padang pasir lengkap dengan seorang musafir yang memaksaku angkat kaki. 13 November 2011 – Untuk Alasan yang Sederhana Pada suatu hari, katanya ia bercermin dan tak menemukan aku lagi. Oktober 2011 – Pukul Setengah… [Read more…]
Selamat datang di karnaval jatuh cinta, pasar malam meriah di dalam dada. Di sebelah kiri ada tenda warna-warni dengan musik menghentak jenaka– sebuah pertunjukan sirkus yang akan kaunikmati. Ada badut berkaki panjang melempar-lempar lima buah bola, jangan khawatir mereka tergelincir sebelum kaulihat yang lainnya: kera mengayuh sepeda roda satu dan nyaris jatuh berkali-kali anak perempuan… [Read more…]
January 15, 2012
2