Sore yang hujan. Aku sedang terperangkap dalam kemacetan bersama Marley—iPod kesayanganku. Lagu-lagu (500) Days of Summer berputar manis. Salah satu film dengan soundtrack terbaik, setidaknya menurutku. Menurutmu juga. Aku selalu suka hujan. Aku suka membenamkan diri di balik sweater atau selimut tebal. Aku suka menggambari jendela berembun. Seperti sekarang. Perlahan jari telunjukku menulis namamu di… [Read more…]
Ayah, sebenarnya aku yang tak sengaja membuat penyok mobil kita karena tak hati-hati memarkirkannya. Ayah, sebenarnya aku juga yang membuat ikan-ikanmu mati dulu sekali. Kupikir mereka butuh sabun untuk mandi. Ayah, maaf kalau dulu aku malas sekolah dan tak pernah dapat ranking satu. Ayah, aku menyesal dulu tak mau belajar piano seperti keinginanmu. Ayah, maafkan… [Read more…]
Pukul tujuh malam. Makanan sudah lengkap tersaji di meja. Sebuah keluarga muda duduk mengelilinginya. Orangtua dan kakak beradik yang lucu. Hangat, tapi berisik sekali. Rupanya dua anak kecil itu sedang bertengkar tentang siapa yang memimpin doa hari ini. “Kemarin kan Cici udah! Sekarang giliran aku!” rengek si adik. “Tapi kan tadi Cici udah bilang duluan… [Read more…]
Di dalam diriku, tinggal seorang anak kecil yang lucu. Umurnya lima tahun dan ia sangat manis. Tadi saat mataku berkaca-kaca, ia bercerita padaku tentang hal-hal yang membuatnya menangis. Biasanya, aku nangis kalau sakit, takut, malu, atau sedih. Soalnya semuanya nggak enak. Sakit itu kalau aku jatuh dan lututku berdarah. Biasanya mama akan membersihkan dan… [Read more…]
“Turun di mana?” “Jatinegara. Kamu?” “Sama.” “Kenapa naik ekonomi?” “Nggak punya duit.” “Hahaha..” “Lagipula aku lebih suka begini.” “Oh ya? Kenapa?” “Banyak yang dilihat.” “Kita sama. Aku juga suka naik ekonomi.” “Kenapa?” “Lebih kerasa petualangannya.” “Wah, keren. Tipe cewek petualang.” “Hahaha.. Apaan sih.” “Suka Green Day juga?” “Loh, kok tau?” “Tadi aku denger kamu nyanyi-nyanyi.”… [Read more…]
Sabtu malam yang menyenangkan. Kau menjemputku tepat pukul tujuh. Ibuku senyum-senyum menggoda, aku senyum-senyum simpul seadanya. Ada cermin di samping televisi ruang tengah, kulirik diam-diam supaya Ibu tak melihat. Sudah cantik, katanya tiba-tiba. Ah, Ibu. Mukaku jadi merah. Kubuka pintu mobilmu. Polo shirt putih dan jeans sobek-sobek itu membuatmu semakin tampan saja. Alismu naik turun… [Read more…]
Kodok, aku tak pernah lupa hari pertama kita bertemu. Waktu itu kita sama-sama terlambat di ospek SMA hari pertama, masih pakai putih biru. Kita turun berbarengan dari kendaraan umum berbeda. Aku geleng-geleng kepala melihat rambutmu yang berantakan dan seragam asal-asalan, dan kamu tertawa melihat sepatuku yang warnanya kuning-hitam. Limabelas menit berikutnya, kita sudah dijemur berdua… [Read more…]
Ulangan Sejarah, soal pilihan ganda. Di menit kesepuluh, beberapa tangan mulai merayap ke kolong meja. Beberapa lainnya merogoh kantong rok dan celana, mengambil handphone masing-masing. Pak Darto duduk di depan, berkutat dengan tumpukan kertas sambil sesekali mengamati kami dari balik kacamatanya. Aku mulai menarikan jariku pada tombol-tombol yang sudah kuhapal posisinya, sementara mataku tetap terpaku… [Read more…]
“Halo!” “Sayang, kamu harus tolong aku! Ini penting, aku gak punya banyak waktu. Di rumahku ada orang tak dikenal. Aku sendiri di kamar. Pintu depan tadi didobrak, suara laki-laki, dua atau tiga orang. Sepertinya mereka maling, atau perampok. Aku mau buka pintu, tapi takut. Bagaimana kalau aku langsung dibekap, diperkosa, lalu dibunuh? Aduh, suara mereka… [Read more…]
“Kau pasti sudah dengar kasus yang sedang kuselidiki. Pembunuh berdarah dingin. Kesembilan korbannya pria beristri. Terbunuh dengan mengerikan. Darah di mana-mana. Tak ada jejak kecuali hati yang retak, digambar pada pipi menggunakan lipstik merah menyala. Pria-pria itu tengah berbohong. Hasil penyelidikan menunjukkan adanya perselingkuhan. Kukatakan pada pihak kepolisian, bisa jadi pembunuhnya perempuan. Motifnya mungkin balas… [Read more…]
October 11, 2011
17