Memo di Pintu Kepalamu Masa lalumu itu setelah usai dikremasi harusnya kautebar di Laut Mati tapi kau menelannya lagi hingga membentuk padang pasir lengkap dengan seorang musafir yang memaksaku angkat kaki. 13 November 2011 – Untuk Alasan yang Sederhana Pada suatu hari, katanya ia bercermin dan tak menemukan aku lagi. Oktober 2011 – Pukul Setengah… [Read more…]
Selamat datang di karnaval jatuh cinta, pasar malam meriah di dalam dada. Di sebelah kiri ada tenda warna-warni dengan musik menghentak jenaka– sebuah pertunjukan sirkus yang akan kaunikmati. Ada badut berkaki panjang melempar-lempar lima buah bola, jangan khawatir mereka tergelincir sebelum kaulihat yang lainnya: kera mengayuh sepeda roda satu dan nyaris jatuh berkali-kali anak perempuan… [Read more…]
Cinta itu seperti balonmu yang tinggal empat: dapat meletus tiba-tiba meski kaupegang erat-erat. Dor. Dor. Dor. Dor. Lalu habis begitu saja.
Posted in: Uncategorized
(bersama Hyde Asmarasastra) aku mulai sajak ini ketika Presiden sedang dicaci maki sebab mengangkat banyak wakil menteri. nah, aku perlu mengatakannya bukan tak bisa mengingat waktu. tetapi karena harapan bisa menjadikannya alibi ketika kau mendapatkan kalimat-kalimat yang tak kau mengerti. mungkin tak masuk akal, tapi sesuatu tak perlu sesuai dengan pikiran yang cuma sejengkal. atau, katakanlah… [Read more…]
Hakuna Matata ..it means no worries for the rest of your days. –Timon, Pumbaa, & Simba The Lion King. Seingat saya, itu film pertama yang saya tonton di bioskop. Nontonnya sama Papa. Kalau lihat Hakuna Matata itu tertulis di Twitter saya, biasanya itu berarti saya lagi stress. Dan selalu membantu. Anak kecil dalam diri saya… [Read more…]
Suatu hari nanti kau akan menikah dengan laki-laki baik. Bukan karena kau perempuan baik (sebab kau suka bilang kau bukan perempuan baik), tapi karena kau teman yang baik. Maka teman-temanmu akan mendoakannya bagimu dan Tuhan akan mengabulkannya. Di pernikahanmu aku akan memakai gaunku yang terbaik. Bukan celana jeans dan sneakers. Bukan sesuatu yang kupakai karena… [Read more…]
Kamu tak akan ada lagi dalam spasi tiap kata di koran pagi, juga dalam tetes-tetes hujan kecil di hidungku waktu berjalan kaki. Aku tak akan bertanya-tanya mengapa pernah melepasmu pergi setiap kali seseorang bernyanyi tentang cerita putus cinta, dan di rumah saat malam tiba ibuku tak akan lagi menahan tawa karena aku selalu kembali membicarakanmu… [Read more…]
Sore yang hujan. Aku sedang terperangkap dalam kemacetan bersama Marley—iPod kesayanganku. Lagu-lagu (500) Days of Summer berputar manis. Salah satu film dengan soundtrack terbaik, setidaknya menurutku. Menurutmu juga. Aku selalu suka hujan. Aku suka membenamkan diri di balik sweater atau selimut tebal. Aku suka menggambari jendela berembun. Seperti sekarang. Perlahan jari telunjukku menulis namamu di… [Read more…]
Sahabat itu seperti pancake durian: mengusir semua kesedihan tanpa muntah di kamar mandi lalu hangover esok pagi. – Terima kasih pancake-nya, Arifun Natik!
: Inne Oktaviany Ada kupu-kupu kertas baru dilukis gadis manis pagi-pagi sekali di tepi jendelanya. Kupu-kupu yang lalu terbang dengan sayap-sayap basah sedikit, bekas kesedihan yang jatuh dari kedua matanya. Begitulah dulu kulihat dia setiap hari: menerbangkan kupu-kupu dari jendela, sampai jauh, sampai tak terlihat lagi. Ia masih suka duduk di tepi jendela yang sama,… [Read more…]
November 27, 2011
13