Lagu yang Menunggu

aku tahu sebuah lagu,
yang bahkan belum kau mulai.

bukan lagu lamamu yang tak juga usai,
meski orang bilang lagu itu sudah usang
maka mainkan saja nada penutup yang megah
tutup buku itu dan kuburlah dalam-dalam
karena tidakkah jemarimu lelah merangkai nada,
dan hatimu merintih menahan perih?

aku tahu sebuah lagu,
yang bahkan belum kau mulai.

hatiku selalu bercerita
bahwa yang terbaca dari tiap senyum,
terangkai dalam tiap kata,
dan tercipta lewat tiap langkah
adalah sebuah lagu yang begitu indah
yang sedang menunggu untuk kau mainkan

aku tahu sebuah lagu,
yang bahkan belum kau mulai.

kemarilah agar kau bisa mendengarnya
dengarkanlah lalu kau akan terpesona
mainkanlah dan jangan berhenti lagi,
percayalah kau tak akan lelah
karena aku akan bernyanyi bersamamu,
lebih merdu, dan lebih indah..

bukankah ini keajaiban,
bahwa aku tahu sebuah lagu
yang bahkan belum kau mulai?

Terima Kasih untuk Mereka

kemarin,
setelah hari lain yang melelahkan
tapi melengkapi kotak kenangan yang menyenangkan,
setelah malam tiba dan aku menemuiNya
lalu tangkupkan tangan untuk menyapa,
aku tersadar, saat kusebut nama mereka dalam doa

ingin kunyatakan sebentuk syukur
padaNya, untuk mengasihiku lewat mereka
dan menjaga lewat lima pasang mata
juga tak terhitung terima kasih pada mereka
untuk segalanya, meski mereka pun tak tahu

bahwa dengan cela, isak tangis dan gelak tawa
telah kudapat sayang, bahagia dan pelajaran
tentang persahabatan dan pengorbanan
hidup, cinta dan kesetiaan
juga Tuhan dan kepercayaan

bahwa dengan berbagai cara tak terduga
telah kupetik buah kebahagiaan
kudapat liku indah dalam tiap hariku
ketika mulai belajar sederhana,
dan mencoba tak terlarut untuk bermanja

bahwa dengan cinta yang mereka punya
telah kucicipi warna warni kehidupan
lewat pelangi yang telah terlukiskan
untuk tiap hal baru yang kudapat dan kusimpan
karena dengan mereka, aku memulai hidup sebenarnya

maka kemarin,
juga hari ini dan akan seterusnya
kupanjatkan nama mereka tiap kali Tuhan kusapa
agar kami bisa selalu saling jaga,
dan perpisahan tak akan pernah terucapkan

karena jauh di dalam, di tempat yang terdalam
hingga tak teraih kecuali oleh Yang Maha Kuasa
sosok mereka telah kusimpan,
dan disanalah mereka akan selalu ada

selamanya.

thank you so much, girls, for always being there for me. love you (:

Rahasia di Bandara

here’s another fiction I just wrote. enjoy! (:

saya suka pergi ke bandara. suka dalam arti, ketika saya bosan, saya akan memacu mobil saya ke bandara untuk duduk berjam-jam di sana. iya, bandara yang itu. bandara yang banyak pesawatnya. bandara yang sibuk dari pagi sampai pagi lagi. bandara yang selalu penuh manusia dan koper-kopernya. mungkin aneh, tapi buat saya itu menyenangkan. kadang seperti melihat adegan akhir love actually.

saya akan makan di McDonald’s. atau sekadar menikmati satu atau dua scoop Baskin Robbin’s, kemudian duduk diam di kursi tunggu. lalu saya akan menggambar. menggambar mereka yang menunggu atau menghabiskan waktu. atau saya akan menulis. menulis mereka yang berpisah atau baru berjumpa. atau saya hanya akan menonton. menonton mereka yang menangis atau tertawa bahagia. yang jelas, percaya atau tidak, saya tahu lebih banyak tentang beberapa kehidupan, daripada para pemilik kehidupan itu sendiri.

saya pernah melihat sebuah keluarga bahagia, dan sepertinya kaya. mereka mengantarkan sang ayah yang akan bertugas ke Amerika. untuk waktu yang lama sepertinya. sang ayah menjanjikan oleh-oleh untuk anak perempuannya yang masih balita, lalu menggendong dan menciumnya. kemudian ia mengecup lembut istrinya, dan pergi meninggalkan mereka. saya sampai terharu melihatnya. saya bahkan sempat menggambarnya.

beberapa bulan kemudian saya kembali. dan apa yang terjadi? saya melihat sang ayah. mungkin tugasnya dipercepat, pikir saya. tapi tidak. ia diikuti seorang wanita muda, yang kemudian dirangkul dan diciumnya mesra. mereka tertawa-tawa. kemudian pergi, masuk ke dalam sebuah taksi. lelaki keparat, maki saya dalam hati.

saya pernah melihat sepasang anak muda. si perempuan menangis karena pacarnya akan kuliah di luar negri. tapi mereka membuat janji untuk saling setia, dan si lelaki pun bersumpah akan cepat kembali. kemudian mereka berpisah, persis seperti adegan film sampai saya ikut membayangkan sebuah lagu cinta sebagai soundtracknya. dan mereka sukses masuk dalam buku harian saya.

karena itulah setelah 6 bulan, saya masih ingat wajah mereka. saya mengenali si perempuan yang datang kembali untuk berlibur ke luar kota, tapi bersama seorang pria. mereka bergandengan dan berangkulan mesra. dan saya juga masih ingat beberapa bulan kemudian, ketika si perempuan kembali datang sendirian. untuk menjemput si lelaki yang kuliah di luar negri. tentu saja si lelaki tidak tahu apa yang pernah terjadi. perempuan sialan, pikir saya kemudian.

tentu saja tidak semua cerita berakhir dengan dusta. ada juga yang tetap bahagia. seperti pasangan muda yang berbulan madu, yang setelah pulang tampak semakin bahagia. seperti keluarga yang baru kembali dari liburan, dan terlihat sangat puas berbelanja. ada juga yang banyak berubah. seperti seorang gadis lugu yang sekolah ke luar negri, dan kembali dengan tattoo, tindikan dan rok mini. seperti lelaki kutu buku yang juga sekolah ke luar negri, dan menjelma menjadi lelaki tampan dengan nilai delapan.

tapi saya tetap tak bisa mengubur rasa penasaran. apa yang terjadi pada keluarga si lelaki keparat itu kemudian? apakah istrinya pernah tahu apa yang telah ia lakukan? apakah sampai sekarang mereka masih bahagia, atau pura-pura bahagia? apa yang terjadi pada hubungan perempuan sialan dan si lelaki setelah ia kembali? apakah mereka tetap berpacaran? apakah si perempuan tetap setia, atau masih menduakan dia? apakah pasangan muda yang berbulan madu akan bertahan selamanya?

kadang saya merasa bersalah karena saya tahu lebih banyak. tapi saya tidak bisa melakukan apa-apa, bukan? karena itu bukan hidup saya. itu hidup mereka. saya sering berpikir, kita seperti aktor sinetron yang tak diberi tahu jalan ceritanya oleh sang sutradara. kita hanya memainkan peranan kita, tanpa tahu kapan berakhir dan bagaimana akhirnya. jika sedang baik hati, saya suka mendoakan mereka. meminta agar semua cerita diberi akhir yang bahagia.

sampai sekarang saya masih suka pergi ke bandara. menggambar, menulis, atau menonton saja. saya juga suka mengira-ngira. siapa tahu ada cerita yang lebih menarik lagi. siapa tahu saya bisa mendapatkan akhir dari cerita yang sudah ada. siapa tahu tokoh-tokoh yang saya kenali muncul kembali, dengan cerita baru untuk saya nikmati. siapa tahu.

Pria dan Sampah

kali ini, saya duduk sendirian.
tidak bersama teman, apalagi pria (yang bukan teman).
apa? pria?

saya bilang, pria itu sampah.
tapi mereka sampah daur ulang.
sesuatu yang disebut sampah pasti pernah berguna, bukan?
dan setelah didaur ulang, mereka akan kembali berguna,
walaupun mungkin bukan untuk pemakai yang lama.

haha, sebuah analogi yang pas menurut saya.
saya tak mau munafik dengan mengatakan kami tak butuh pria.
tapi saya lebih senang menyebut mereka sampah setelah dibuat kecewa.
anggap saja saya membuang sampah.
atau sampah membuang dirinya sendiri?

setelah itu, waktunya mencari jalan masing-masing.
saya mencari yang belum terbuang (atau yang pernah dibuang?),
dan dia pun terdaur ulang.

demikianlah hidup berjalan seperti roda.
atau lingkaran setan.