Hujan di Kotamu, Hujan di Kotaku

1.
Suatu hari di kotamu, kau dibuat ketakutan
oleh hujan yang jatuh:

entah segala yang bertahan sebelum angin
memaksanya patuh, atau kaki-kaki yang berderap
semakin lama semakin riuh, atau gelap yang membuat
kesepian kian penuh.

Kukirim kata-kata penenang kemudian
ikut takut bersamamu—aku tak tahu cara tepat
membuat pelukan tetap hangat
hingga sampai di tempat yang jauh.

 

2.
Suatu hari di kotaku, muram menggantung lama
tapi hujan tumpah sebentar dengan
sepatu besar-besar. Kurasa langit tak mau menambah
kelabu pada wajah-wajah tak sabar, sebab mendung
memilih pergi segera setelah rintiknya kelar.

Tiba-tiba aku tersadar: kau batu dingin dan aku
petir menyambar-nyambar. Sayang cinta bukan cuaca—
terang sudah berulang-ulang tapi kita
tak juga usai bertengkar.

 

3.
Suatu hari di tubuh kita, kau dan aku jadi
sepasang nyeri sepanjang punggung yang
terkikis–

sejak itu turun gerimis,
terbuat dari kehilangan
terus-menerus dan tipis-tipis.

Setahun Setelah Sajakmu

1.
Kuingat nama-nama mati yang
kausebutkan suatu pagi
sebelum kita mulai menyiapkan
kehilangan sendiri

2.
Kita menggambar sebatang pohon
dengan daun-daun jatuh,
lalu bertengkar tentang cuaca
dan tempat berteduh

3.
Mencium dengan bibir ngilu
mencintai dengan pisau dan batu:
apakah ini kita
atau takut yang terlalu?

4.
Bagaimana ulang tahun sajakmu
seharusnya dirayakan–
kunyalakan sebatang lilin
tapi ia tak punya permintaan.

Perbincangan-perbincangan Patah dan Rahasia

: MSN

Aku mengingat semua peristiwa serta nama
tapi memajang separuhnya dengan sembarang
kata-kata. Kau menyimpan tiap detil lebih baik
dengan catatan kaki sepenuh dada. Sebab tak ada
pergi atau datang yang bukan pertanda,
kaubilang; sementara hidup adalah perjalanan
menyinggahi pertanyaan dan jawaban yang
tak saling mengenal sesegera mereka saling
membutuhkan. Barangkali kau dan aku tak akan
lekas tahu apa yang diinginkan sebuah pertanda dari
patahan-patahan yang kita bagi nyerinya. Atau
harus kita apakan angan-angan jika ini hanya
lelucon-lelucon satir di mana orang berputar-putar
lalu berujung pada takdir juga.
 
Maka jatuh lalu sembunyi saja–kita punya banyak petang
sepanjang jalan untuk perbincangan serupa
obat sakit kepala yang tak pernah cukup dosisnya.

Membayangkan Masa Kecilmu

: mkh

Delapanpuluhan di ujung timur seribu kilometer dari ibukota. Dinding-dinding
penyimpan garam mencatat sejarah selekat kisah-kisah tua di atas layang madura,
memahami jauh lebih dari pukulan di belakang jika jelang gelap kau tak kunjung tiba.

Ceritakan padaku tentang petang yang membuat kau terlambat pulang, sayang.
Aku tergila-gila pada masa kecilmu: rumah pantai tempat ombak tak akan menyapu
jejakku. Bukan sebab hutan bakau atau bocah-bocah bermain bola di atas pasir–
kubayangkan ia waktu yang terus mengaliri tubuhmu sederas peluh tiap kau
berlari sepanjang pesisir.

Kisah apa kaubawa saat datang kemarin, selain hati pasang surut dan nyeri punggung
yang lain? Sampaikan kesedihan asin di balik dada berlapis keramik dingin,
bisikkan namaku yang gerimis pada tiupan angin kering

: biar aku dikenal meski sebagai kekal yang tak bakal hadir.

Kepergian dan Perempuan yang Terlelap dengan Sekawanan Kupu-kupu

(mendengarkan Tori Amos – Sleeps With Butterflies)

Apa saja yang sedang kaulihat di atas sana?

entah seberapa dalam kita saling melukai suatu malam
sampai kutemukan kau meninggalkanku terlelap dengan
sekawanan kupu-kupu:

kehilangan yang terbang memenuhi dada dan perutku.

 

Meski begitu mulai kunikmati pagi-pagi timbul tenggelam dalam perasaan
yang kita muntahkan setengah sadar
sebab mungkin memang tak ada yang perlu disesali
dari sebuah kepergian

(kuingat kita suka membayangkan membebaskan diri
dalam sebuah balon udara
dan tersadar kata-kata tajam akan menjadikannya
perjalanan yang berbahaya)

 

maka aku akan berhenti menarikmu kembali ke daratan—
kubiarkan kau menjadi layang-layang
yang bebas terbang.

 

Tapi kautahu ke mana dapat pulang jika perjalanan
menjadi terlalu sepi untukmu

: seorang perempuan tengah terlelap
dengan sekawanan kupu-kupu yang kautinggalkan
dan membuatnya menunggu.

Perempuan-perempuan yang Memilih Tertawa

Kepulan asap berusaha mengaburkan nasib
yang cuma baik dalam fiksi semata;
perempuan-perempuan tertawa pada kunci miring yang sama
tapi tak tahu karena apa.

Mungkin kesedihan sumbang yang tumbuh seperti jamur
sepanjang tembok-tembok lembab gang buntu
memang sesekali terdengar lucu,
atau barangkali kita hanya geli pada kaki sendiri
sebab suka sekali mengikuti tanda-tanda menuju jalan
yang berakhir pada tak ada
padahal panah di persimpangan pun tak pernah
mendesiskan apa-apa seperti ular kepada Hawa—
lagipula bukankah kisah cinta seringkali cuma
tentang detak-detak salah sangka?
Siapa tahu ternyata kita di sini hanya
rusuk-rusuk yang hilang tanpa label nama

maka kita memilih tertawa,
sebab tak banyak yang bisa dilakukan saat udara
terlalu basah untuk airmata dan cuaca
terlalu gelap untuk langkah entah ke mana.

Hal-hal yang Hilang Pukul Tiga Pagi

Setelah itu jarum jam adalah rol-rol mimpi dengan berbagai pengulangan adegan kepergian, malam-malam lelah berisi berbagai barang rusak dan hilang: sandal, arloji, hingga senar-senar gitar. Kucari ke mana-mana sampai terjaga lalu disergap sedih yang asing—ada yang lenyap dari dada kiri seperti kancing-kancing lepas menggelinding

maka kutahu itu kau, menyamar sebagai jejak lalu waktu lalu bunyi
sebagai hal-hal yang pergi.

Tapi adakah yang berserakan lalu tak ditemukan lagi
setelah hati bersepakat sekuat kamar terkunci?