Surat Tahun Baru buat Gonggong

Kepada Gonggong*.

 

Kemarin kita bicara sajak. Sajak-sajak Cina klasik. Dan aku sudah berlatih berminggu-minggu untuk membisikkan salah satunya di telingamu. Lalu kau tersenyum, sembari protes karena pelafalanku yang tetap saja kacau dari tahun ke tahun. Tapi aku mengatakan padamu, wo xianzai xue xi han yu, hati-hati dan pelan-pelan.

Kemarin kita bicara sajak. Sajak-sajak Indonesia hari ini. Dan kau mengomel karena aku sudah berbulan-bulan tak menulis lagi.

Gonggong, sayang sekali kau sudah lama tak boleh minum kopi. Padahal aku ingin membuatkanmu secangkir yang hitam, yang kental, dan tak terlalu manis; seperti kesukaan Papa. Tapi meski kau tak minum kopi seperti Papa, kau tetap bicara tentangnya, seperti biasa.

Kami terus bertengkar sejak ia masih ingusan, kaubilang. Aku tahu, kubilang. Aku tahu kalian saling membenci dengan paling banyak cinta, cinta yang malu-malu dan diam-diam.

Nyanyikan lagi lagu itu, pintaku kemudian. Kau tertawa kecil. Aku tak pernah bosan. Kau juga. Istrimu tiga, tapi cuma satu yang kaucintai penuh, sepenuh terang bulan dalam lagu spesial buatanmu. Popo, nenekku! Nenekku yang lidahnya pisau, yang kata-katanya selalu kemarau.

Kau bernyanyi dan aku tersenyum. Lalu begitulah, seperti tahun-tahun sebelumnya, kita bicara lebih banyak, lebih dalam, sedalam tidurmu saat aku pamit pulang (akhirnya aku pulang tanpa menunjukkan rajah di punggungku, niat yang kuurungkan karena teringat cerita Papa tentang pintu rumah yang pernah kautendang sampai patah).

 

Gonggong, sayang sekali percakapan kita cuma bisa kukira-kira. Sebab nyatanya kau telah jatuh pada tidur paling dalam, bahkan sejak jauh sekali, jauh sebelum aku datang pertama kali. Tapi biar aku mengenalmu banyak-banyak, Gonggong, dari cerita Papa yang penuh sesal, dari batu nisan dengan namamu di Petamburan.

Kiong hi, Gonggong, kakekku yang puisi.

*) baca: Kungkung

Catatan Nama dan Rahasia

(bersama Ed @eswlie)

 

1.
Suatu hari kita saling menggambar sore berangin dan bangku taman:
di sana kau adalah waktu dan aku kecemasan.
Sedikit jarak di antara kita cukup untuk meletakkan
alamat-alamat paling jauh dan kesedihan sepasang nama.

 

2.
Kau mencatat apa saja yang harus kaulupakan bulan ini
lalu menempelkannya di depan cermin dan lemari-lemari.
sebab mungkin ingatan hanya rasa curiga, atau cahaya yang hilang
dan kata-kata yang mengapung dalam garis besar yang tak tampak.

 

3.
Aku bercermin banyak-banyak dan memutuskan
bahwa sepi selalu perlu lebih banyak warna oranye.
setahun lalu sebelum pergi kamu memberiku perona pipi
dan sejak itu aku hari ulang tahun yang terkurung di dalam hujan.

 

4.
Orang-orang menumbuhkan nama di dada dan
menimbun rahasia di punggung mereka.
Tapi kartu pos, juga kado-kado, selalu lebih sunyi dari nama dan rahasia,
seperti saat kita bersembunyi dari yang pernah sedih dan anonim.

 

5.
hujan yang baru dimulai dan kangen basi
dalam cangkir-cangkir kecil: di kedai kopi,
di meja untuk dua, di alinea terakhir,
tak akan ada tempat tanpa waktu dan rahasia untuk kita.

 

6.
lalu kuingat kita bicara tahun dan mengenalnya
sebagai hujan lain yang tak pernah berhenti,
atau mungkin tulisan-tulisan sejauh ribuan kilometer yang
terlepas dari catatan di depan cermin atau lemari.

Saat Membaca Berita Pagi

1/
Harga bawang tetap naik maka kita masih perlu
menguras saku celana untuk menikmati yang terus
tumbuh di tanah tak asing. Aku pun tak punya cara
lebih baik agar kita tak lagi perlu memeras banyak
air mata untuk menikmati yang terus tumbuh di
dada masing-masing.

2/
Orang-orang tetap licik maka kita masih punya
alasan untuk takut pada kata-kata yang mungkin tengah
berbohong satu sama lain. Aku pun tak punya cara
lebih baik agar kita tak lagi punya alasan untuk takut
pada perasaan yang mungkin tengah menipu diri tiap
bercermin.

3/
Presiden tetap sama dan kita memang telah bosan
mendengar kata kecewa yang itu-itu juga dengan
kalimat samar yang tak menarik. Mungkin juga tak ada
cara agar kau tak pernah bosan mendengar melankoli
yang itu-itu juga dengan kalimat sedih yang cuma
kubolak-balik.

Cerita yang Selesai pada Suatu Hari Minggu

: Arnellis

Ini tentang nona dan cerita miliknya sendiri. Tak ada yang baru
selain kehilangan dan penyair dengan apel manis beracun—
dongeng anak-anak gadis yang mengalir ratusan tahun.
Hanya saja ia bukan putri-putri penyabar dan dungu yang
menunggu di depan tungku atau puncak menara batu;

ini cerita nona yang tak serapuh perempuan punya Minke. Ia
luka lalu berdiri, lupa lalu mencari, sepanjang lembar-lembar
yang berulang sampai tebal seperti tulisan pengarang yang
kelewat panjang akal.

Ini halaman terakhir cerita sebelum sederet usia kosong yang
tak terbaca. Tentu kita tahu kisah nyata tak pernah selesai
pada sebuah potret sempurna,

tapi kalimat penutup yang terlalu manis mungkin bukan
bohong belaka.

Semoga bahagia selalu, Arnel dan Heru!

 

Sajak Penutup Tahun yang Tergesa

: Oddie Frente

Tahun turun di balik kaca, deras dan tergesa.
Cerita patah hati juga berita orang mati
diapungkan duka, dari nama ke nama yang lebih
nyeri, dari pergi ke pergi yang lebih nyata.

Tahun turun di luar jendela, deras dan tergesa.
Kau melesat serupa butir peluru ditembakkan
kata-kata, dari rantau ke rantau yang lebih jauh,
dari pulau ke pulau yang lebih teduh.

Tahun turun di dalam kepala, deras dan tergesa.
Aku mengenang gelas-gelas plastik puisi dan
temu dini hari, dari asap ke asap yang lebih pekat,
dari sesap ke sesap yang lebih dekat.

Tahun turun di mana-mana, deras dan tergesa.
Ia menggenang sepanjang sajak dari Cikini ke
Batanghari lalu habis tanpa sisa: tidakkah
semua orang akan merasa sedikit sia-sia?

Melankoli dalam Komposisi

(bersama Hyde Asmarasastra dan Liza Samakoen)

I

inilah awal mula kita saling mengatakan hal-hal
yang bertolak belakang bersamaan: langit aman
tanpa tuhan yang layak dikhawatirkan, cuma
angin dan sekumpulan awan pemandu khayalan.

melakukan ritual melewati kesedihan lebih dalam
dari kehidupan berpasangan. terbang dengan mata
tertutup, jadi keterasingan yang biasa.

tiap-tiap pesta terapung memiliki atapnya sendiri;
resonansi cuaca, kepak sayap 1000 gagak buta,
tabrakan-tabrakan kecil awan mengada, menghindari
kegandrungan sesaat. apa daya, takdir seringkali
bergantung pada hal-hal remeh semacam itu.

II

desember menyusun akhir perjalanan dari empat ratus
tanggal kedinginan dan garis-garis hujan. menyimpan
mereka dalam satu setengah meter persegi sunyi,
menambah riuh kepala penuh berbagai bunyi.

putaran kipas angin. jarum runcing jam dinding.
kaki-kaki berlalu. petir menyambar-nyambar batu. aku
menghitung detik-detik gugur—kehilangan yang
jatuh dengan basah dan teratur.

desember menyusun akhir perjalanan dari empat ratus
malam gigil dan aku. melipat kami seperti halaman
penutup sebuah buku. menyimpannya hati-hati dan
diam-diam di sela rusukmu.

III

yang berselimut. apa yang lumpuh dari diam tak sanggup
dan puisi gugup. apa yang utuh dari cemas andam seluruh.
jika bisik doa dan bising prasangka menjadi kemungkinan
tak bisa hidup. dinginkah menggigil saban malam atas ruh.

yang berikut. apa yang berloncatan dari pemberontakan dan
keseimbangan. apa yang ganih dari gelisah jadi benih. pada
sela usia dan selama rahasia hanya amsal akhir pertobatan.
panas itukah memanggil jatuh pada lubuk paling didih.

yang menjemput. menghantarkan seuntai alpa pada maut.
awal kelonggaran hubungan sedu sedan manusia. 14 abad
dalam bahasa. “seandainya kalian mengetahui yang aku
ketahui, niscaya sedikit tertawa dan banyak menangis.”